{"id":624,"date":"2025-06-17T10:06:14","date_gmt":"2025-06-17T10:06:14","guid":{"rendered":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/?p=624"},"modified":"2025-06-17T10:06:14","modified_gmt":"2025-06-17T10:06:14","slug":"fisip-umb-perkuat-branding-sekolah-indonesia-di-malaysia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/2025\/06\/17\/fisip-umb-perkuat-branding-sekolah-indonesia-di-malaysia\/","title":{"rendered":"FISIP UMB Perkuat Branding Sekolah Indonesia di Malaysia"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/download13-768x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-625\" style=\"width:373px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/download13-768x1024.png 768w, https:\/\/fisip.umb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/download13-225x300.png 225w, https:\/\/fisip.umb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/download13-1152x1536.png 1152w, https:\/\/fisip.umb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/download13.png 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<div style=\"height:47px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p>Yogyakarta sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai pusat intelektual dan akademik internasional dengan suksesnya penyelenggaraan <strong>J<em>ogjakarta Communication Conference (JCC) 2025<\/em><\/strong>. Konferensi bergengsi ini, yang mengangkat tema yang sangat relevan &#8220;Advancing Regional Resilience: Digital Transformation Impact on Society in Southeast Asia,&#8221; berlangsung selama dua hari penuh, yakni pada <strong>9\u201310 Mei 2025<\/strong>, di jantung kota budaya Indonesia. Inisiatif signifikan ini diprakarsai dan dipimpin langsung oleh <strong>Dr. Juliana Kurniawati, M.Si.<\/strong>, sosok Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang visioner.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sambutan pembukaannya yang penuh wawasan, Dr. Juliana Kurniawati dengan tegas menggarisbawahi bahwa transformasi digital telah memicu perubahan besar dalam struktur sosial dan dinamika masyarakat di seluruh kawasan Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa dampak dari revolusi digital ini tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga melahirkan serangkaian tantangan kompleks. Tantangan-tantangan ini mencakup isu-isu krusial seperti ketimpangan akses digital yang dapat memperlebar jurang sosial-ekonomi, penyebaran disinformasi yang mengancam kohesi sosial dan demokrasi, hingga ancaman keamanan siber yang terus berevolusi dan membahayakan infrastruktur vital. Menyadari urgensi respons terhadap tantangan-tantangan multidimensional ini, Dr. Juliana menyatakan bahwa JCC 2025 digagas sebagai ruang temu ilmiah yang krusial untuk memfasilitasi diskusi mendalam dan merumuskan strategi kolaboratif. Tujuan utamanya adalah untuk secara kolektif memperkuat ketahanan sosial kawasan di tengah laju perubahan teknologi yang begitu cepat dan tak terelakkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Konferensi ini berhasil menarik partisipasi aktif dari jajaran akademisi terkemuka dan praktisi berpengalaman yang datang dari berbagai negara di Asia Tenggara, antara lain <strong>Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina<\/strong>. Sesi-sesi diskusi panel dan presentasi makalah berlangsung dinamis, membahas spektrum topik yang luas dan relevan. Pembahasan mencakup mulai dari <strong>literasi digital<\/strong> sebagai fondasi penting bagi partisipasi masyarakat di era digital, peran media dalam mengukuhkan atau menggerus demokrasi, analisis kompleks algoritma media sosial dan dampaknya terhadap opini publik, hingga perumusan <strong>kebijakan perlindungan data<\/strong> yang esensial di era <em>big data<\/em>. Dalam salah satu sesi diskusi yang paling menarik, delegasi dari Malaysia berbagi pengalaman inspiratif mereka dalam membangun kerangka kerja ketahanan siber yang inklusif, menunjukkan komitmen negara tersebut terhadap keamanan digital warganya. Sementara itu, pembicara dari Filipina mengangkat isu-isu genting seputar tantangan literasi digital di komunitas akar rumput, memberikan perspektif berharga dari sisi pembangunan kapasitas di tingkat paling dasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu hasil paling penting dan konkret dari konferensi ini adalah kesepakatan dan rencana untuk membentuk <strong>Southeast Asia D<em>igital Society Research Network<\/em><\/strong>. Jaringan kerja sama penelitian lintas negara ini akan didedikasikan untuk secara khusus fokus pada kajian mendalam mengenai berbagai aspek transformasi digital di kawasan Asia Tenggara. Dr. Juliana Kurniawati menyampaikan optimismenya bahwa inisiatif ini tidak hanya akan memperkuat kapasitas riset bersama antarnegara, tetapi juga akan secara signifikan mendorong perumusan kebijakan berbasis data yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat di tengah gelombang digitalisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui penyelenggaraan JCC 2025, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), telah secara meyakinkan menunjukkan peran aktifnya yang progresif dalam percakapan akademik regional dan global. Konferensi ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi signifikan dapat datang dari perguruan tinggi di daerah, yang mampu memimpin dialog ilmiah strategis dan menghasilkan dampak yang luas dan positif. Dr. Juliana Kurniawati mengungkapkan harapannya yang besar agar JCC dapat menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan dan forum tetap bagi para akademisi dan pemangku kepentingan untuk terus berkolaborasi dan mendorong ketahanan masyarakat Asia Tenggara dalam menghadapi segala dinamika dan tantangan di era digital yang terus berkembang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai pusat intelektual dan akademik internasional dengan suksesnya penyelenggaraan Jogjakarta Communication Conference (JCC) 2025. Konferensi bergengsi ini, yang mengangkat tema yang sangat relevan &#8220;Advancing Regional Resilience: Digital Transformation Impact on Society in Southeast Asia,&#8221; berlangsung selama dua hari penuh, yakni pada 9\u201310 Mei 2025, di jantung kota budaya Indonesia. Inisiatif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-624","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=624"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/624\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":627,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/624\/revisions\/627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.umb.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}