
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat wawasan global dan pengabdian masyarakat dengan menggelar Kuliah dengan tema “Resiliensi Komunitas Pesisir: Sinergi Sosial, Komunikasi, dan Kebijakan Publik di Era Perubahan Global” , Senin (29/9/2025).
Acara yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung di YouTube UMB TV ini berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB. Antusiasme peserta terlihat luar biasa, 100 mahasiswa bergabung di Zoom dan ratusan mahasiswa serta sivitas akademika menyaksikan melalui siaran langsung.
Kegiatan ini menjadi agenda wajib bagi mahasiswa baru FISIP, sekaligus terbuka untuk sivitas akademika, dosen, serta masyarakat umum yang tertarik pada isu pembangunan masyarakat, komunikasi, dan kebijakan publik. Kuliah pakar ini menghadirkan Assoc. Prof. Mohammad Reevany Bustami, Ph.D, seorang akademisi dan peneliti internasional yang dikenal luas dalam bidang pembangunan masyarakat, komunikasi strategis, dan kebijakan publik.
Acara dibuka tepat pukul 09.00 WIB oleh MC, Ayu Wijayanti, yang memandu jalannya kegiatan dengan penuh semangat. Suasana acara terasa hangat dan penuh antusiasme, baik dari peserta Zoom maupun penonton yang menyaksikan melalui YouTube.
Setelah pembukaan, doa dipimpin oleh Ustad Riswanto M.I.Kom, dilanjutkan dengan pemutaran video profil dosen FISIP UMB.
Tayangan ini memberikan pemahaman kepada peserta tentang peran FISIP sebagai fakultas yang berkomitmen pada pengembangan ilmu sosial dan pengabdian kepada masyarakat.
Selanjutnya, Wakil Dekan I FISIP UMB yang mewakili Dekan menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kehadiran narasumber internasional dan menjelaskan pentingnya kegiatan seperti ini untuk memperkuat kapasitas akademik mahasiswa.
“Tema yang diangkat hari ini sangat relevan dengan kondisi sosial kita, terutama di Bengkulu yang memiliki banyak kawasan pesisir. Kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) UMB), Andi Azhar. Ia menekankan pentingnya membangun jejaring internasional untuk memperluas wawasan mahasiswa dan dosen FISIP.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Azhar juga menyampaikan kabar gembira mengenai rencana penguatan kerja sama internasional.
“Insyaallah, pada akhir tahun ini atau paling lambat dalam satu semester ke depan, civitas akademika UMB akan melakukan kunjungan ke Malaysia. Kegiatan ini bertujuan memperluas kolaborasi akademik, memperkuat jaringan internasional, serta memberikan pengalaman langsung bagi dosen dan mahasiswa dalam melihat praktik terbaik pengembangan ilmu sosial dan kebijakan publik di tingkat global,” ungkapnya.
Pernyataan ini disambut antusias oleh peserta yang hadir. Rencana kunjungan ini sekaligus menunjukkan komitmen FISIP dalam memberikan pengalaman internasional bagi mahasiswa dan dosen, sehingga mereka dapat menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan praktik nyata di luar negeri.
Puncak acara diisi oleh Assoc. Prof. Mohammad Reevany Bustami, Ph.D. Dalam pemaparannya selama kurang lebih 1 jam, beliau membahas konsep resiliensi komunitas pesisir, yaitu kemampuan masyarakat pesisir untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim, bencana alam, dan dinamika sosial-ekonomi.
Menurut Prof. Reevany, pembangunan ketahanan komunitas pesisir tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, swasta, serta lembaga non-pemerintah.
“Resiliensi bukan hanya tentang bertahan menghadapi krisis, tetapi juga tentang bagaimana suatu komunitas mampu bangkit, berkembang, dan menjadi lebih kuat. Komunikasi yang efektif dan kebijakan publik yang tepat akan menjadi pilar utama dalam proses ini,” jelasnya.
Beliau juga memberikan contoh nyata terkait tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir di Bengkulu, seperti ”abrasi pantai, banjir rob, keterbatasan akses ekonomi, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Prof. Reevany menggarisbawahi pentingnya pendekatan berbasis komunitas dan kearifan lokal dalam mengatasi masalah ini.
“Bengkulu memiliki potensi besar untuk menjadi model pembangunan pesisir yang berkelanjutan. Namun, ini hanya bisa terwujud jika kebijakan pemerintah selaras dengan aspirasi masyarakat dan diimplementasikan melalui program yang partisipatif,” tambahnya.
Setelah pemaparan materi utama, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi panel selama 30 menit. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis, mulai dari strategi memperkuat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan hingga pemanfaatan teknologi digital dalam komunikasi pesisir.
Prof. Reevany menjawab setiap pertanyaan dengan detail dan memberikan pandangan yang aplikatif. Ia mendorong mahasiswa untuk mengambil peran aktif dalam proses perubahan sosial, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai agen perubahan.
“Mahasiswa adalah masa depan bangsa. Dengan pengetahuan dan semangat yang kalian miliki, kalian bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga dalam konteks global,” tegasnya.
Sesi diskusi ini menjadi momen penting yang memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan teori akademik dengan realitas lapangan.
Sebelum acara ditutup, panitia memberikan waktu 10 menit untuk sesi refleksi mahasiswa. Dalam sesi ini, beberapa mahasiswa menyampaikan kesan dan pembelajaran yang mereka peroleh.
Salah seorang mahasiswa baru menyampaikan bahwa kuliah pakar ini memberikan pemahaman baru tentang keterkaitan antara ilmu komunikasi, kebijakan publik, dan pembangunan masyarakat. Ia juga merasa termotivasi oleh rencana kunjungan akademik ke Malaysia yang akan memberikan pengalaman internasional langsung.
Acara kemudian ditutup oleh MC dengan penarikan kesimpulan dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk peserta yang hadir melalui Zoom dan YouTube.
Kuliah pakar ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga langkah strategis FISIP UMB dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan aksi nyata di masyarakat. Dengan acara ini membuktikan bahwa topik resiliensi komunitas pesisir merupakan isu yang penting dan mendapat perhatian luas.
Rencana kunjungan civitas akademika ke Malaysia diharapkan menjadi tindak lanjut konkret dari kuliah pakar ini. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa dan dosen akan memperoleh perspektif baru yang dapat diadaptasi untuk pembangunan masyarakat lokal, khususnya di Bengkulu.
FISIP UMB terus berkomitmen untuk menghadirkan program-program akademik yang berdampak positif, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Hal ini sejalan dengan motto kampus:
“Mencetak Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing Global.”
Dengan berakhirnya kuliah pakar ini, FISIP UMB berharap mahasiswa dapat mengembangkan wawasan yang lebih luas, siap menghadapi tantangan global, dan berkontribusi dalam memperkuat ketahanan komunitas pesisir yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi perubahan zaman.



